Rabu, 02 Desember 2020

Teori-teori Dalam Perubahan Sosial

 

Teori-Teori Dalam Perubahan Sosial

Disusun untuk memenuhi Mata Kuliah Rekayasa dan Perubahan Sosial

Dosen Pengampu : Aman Nulhaqim, M.Pd



Disusun oleh :

 

PRATIWI RAHIM                                       H. 1711119

RISKALIA NURBANI                                H. 1711120

RITA ANZANI                                             H. 1711166

SITI RUKMANA                                         H.1711124

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS DJUANDA

BOGOR

2020

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Teori-teori Perubahan Sosial” .

Adapun tujuan penulisan dari makalah ini adalah untuk memenuhi tugas dari Bapak Aman Nulhaqim, M.Pd pada Mata Kuliah Rekayasa dan Perubahan Sosial . Selain itu makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawasan bagi para pembaca dan juga bagi penulisnya.

Saya mengucapkan terima kasih kepada beberapa pihak yang telah membantu dalam penulisan makalah ini. Saya menyadari, makalah yang kami buat masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan kami nantikan demi kesempurnaan makalah ini.

 

 

Bogor, 2020

Penulis


 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR.. i

DAFTAR ISI. ii

BAB I. 1

PENDAHULUAN.. 1

A.         Latar Belakang Masalah. 1

B.         Rumusan Masalah. 2

C.         Tujuan. 2

BAB II. 3

PEMBAHASAN.. 3

A.         Pengertian Perubahan Sosial 3

B.         Teori-Teori Dalam Perubahan Sosial 4

1.     Teori Evolusi 4

2.     Teori Revolusi 5

3.     Teori Siklus. 7

4.     Teori Fungsional 9

5.     Teori Konflik. 11

C.         Sifat Manusia Menurut Teori Perubahan Sosial 12

BAB III. 15

PENUTUP. 15

A.         Kesimpulan. 15

DAFTAR PUSTAKA.. 16


BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Perubahan social menurut Selo Soemardjan yaitu segala perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan didalam suatu masyarakat yang mempengaruhi system sosialnya termasuk didalam nilai-nilai, sikap dan pola perilaku diantara kelompok-kelompok didalam masyarakat. (Marius, 2006)

Manusia memiliki peran sangat penting terhadap terjadinya perubahan  masyarakat. Perubahan  itu terjadi sesuai dengan  hakikat dan sifat dasar manusia yang selalu ingin melakukan perubahan, karena manusia memiliki sifat selalu tidak puas  terhadap apa yang telah dicapainya, ingin mencari sesuatu yang baru untuk mengubah  keadaan agar menjadi lebih baik sesuai dengan kebutuhannya

Setiap masyarakat pasti mengalami yang namnaya perubahan, perubahan ini terjadi dalam berbagai bidang yaitu pada bidang politik, ekonomi, social maupun perubhaan yang brrkaitan dengan kebudayaan masyarakat itu sendiri. Perubahan yang terjadi dalam bidang social pada suatu masyarakat disebut dengan perubahan social.

Dalam perubahan social yang terjadi didalam masyarakat dipengaruhi oleh berbagai faktor, perubahan ini fapat menuju kearah yang negative maupun yang positif.banyak teori yang berkaitan dengan perubahan social, oleh karena itu melalui makalah ini kami akan membahas teori-teori tentang perubahan social dimasyarakat.


 

 

 

B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka permasalhan yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu apa pengertian dari perubahan social dana apa saja teori-teori yang berkaitan dengan perubahan social, dan bagaimana sifat manusia menurut teori perubahan social.

C.    Tujuan

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui pengertian perubahan social, teori-teori yang berkaitan dengan perubahan social, dan bagaiman sifat manusia menurut teori perubahan social.

 


 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Pengertian Perubahan Sosial

Perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi karena adanya ketidak sesuaian di antara unsur-unsur sosial yang berbeda di dalam kehidupan masyarakat,  sehingga  menghasilkan pola kehidupan yang baru ( berbeda dengan pola kehidupan sebelumnya). Perubahan  sosial  mencakup  perubahan dalam nilai - nilai sosial, norma-norma sosial, susunan lembaga kemasyarakatan, pelapisan sosial, kelompok sosial, interaksi sosial, pola-pola perilaku, kekuasaan dan wewenang, serta berbagai segi kehidupan masyarakat lainnya. Berikut ini merupakan definisi perubahan sosial yang dikemukakan oleh para  Sosiolog :  

a.       Kingsley Davis : Perubahan sosial merupakan perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat. Menurutnya, timbulnya pengorganisasian buruh  dalam masyarakat kapitalis telah menyebabkan perubahan dalam hubungan-hubungan antara buruh dengan majikan, dan seterusnya menyebabkan perubahan-perubahan dalam organisasi ekonomi dan politik                   

b.       John  Lewis Gillin  dan  John Philip Gillin :  Perubahan sosial adalah suatu variasi dari cara hidup yang diterima, akibat adanya perubahan kondisi geografis, kebudayaan material, komposisi penduduk, ideologi, maupun karena adanya difusi dan penemuan baru dalam masyarakat.    

c.       Robert M MacIver : Perubahan-perubahan sosial sebagai perubahan-perubahan dalam hubungan sosial ( social relationships) atau sebagai perubahan terhadap keseimbangan ( equilibrium ) hubungan sosial  

d.      Selo Soemarjan : Perubahan sosial adalah perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya  nilai, sikap dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat.

e.       William F. Ogburn : Perubahan sosial menekankan pada kondisi teknologis yang menyebabkan terjadinya perubahan pada aspek-aspek kehidupan sosial, seperti kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat berpengaruh terhadap pola berpikir masyarakat.

B.     Teori-Teori Dalam Perubahan Sosial

1.      Teori Evolusi

            perubahan yang lambat (evolusi), merupakan perubahan yang memerlukan waktu yang lama, karena terjadi dengan sendirinya tanpa direncanakan dimana terdapat suatu rentetan perubahan kecil yang saling mengikuti dengan lambat. Perubahan-perubahan ini berlangsung mengikuti kondisi perkembangan masyarakat, yaitu sejalan dengan usaha-usaha masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Dengan kata lain, perubahan sosial terjadi karena dorongan dari usaha-usaha masyarakat guna menyesuaikan diri terhadap kebutuhan-kebutuhan hidupnya dengan perkembangan masyarakat pada waktu tertentu. Contoh, perubahan sosial dari masyarakat berburu menuju ke masyarakat meramu.

            Menurut Soerjono Soekanto, terdapat tiga teori yang mengupas tentang evolusi, yaitu :

1)      Unilinier Theories of Evolution: menyatakan bahwa manusia dan masyarakat mengalami perkembangan sesuai dengan tahap-tahap tertentu, dari yang sederhana menjadi kompleks dan sampai pada tahap yang sempurna.

2)       Universal Theory of Evolution: menyatakan bahwa perkembangan masyarakat tidak perlu melalui tahap-tahap tertentu yang tetap. Menurut teori ini, kebudayaan manusia telah mengikuti suatu garis evolusi yang tertentu.

3)       Multilined Theories of Evolution: menekankan pada penelitian terhadap tahap perkembangan tertentu dalam evolusi masyarakat. Misalnya, penelitian pada pengaruh perubahan sistem pencaharian dari sistem berburu ke pertanian.

Teori Evolusi menjelaskan bahwa perubahan sosial memiliki arah tetap dan dialami setiap masyarakat. Arah tetap yang dimaksud adalah perubahan sosial akan terjadi bertahap, mulai dari awal sampai perubahan terakhir. Saat telah tercapai perubahan terakhir maka tidak akan terjadi perubahan lagi. Pada dasarnya Teori Evolusi Berpijak pada Teori Evolusi Darwin dan dipengaruhi Pemikiran Herbert Spencer.

 

2.      Teori Revolusi

Revolusi merupakan wujud perubahan sosial yang paling spektakuler, sebagai tanda perpecahan mendasar dalam proses historis, dan pembentukan ulang masyarakat dari dalam. Sztompka dalam Nanang Martono (2011) menyebutkan bahwa revolusi mempunyai perbedaan dengan bentuk perubahan sosial yan lain. Perbedaan tersebut adalah revolusi menimbulkan perubahan dalam cakupan terluas, menyentuh semua tingkat dan dimensi masyarakat: ekonomi, politik, budaya, organisasi sosial, kehidupan sehari-hari, dan kepribadian manusia, dalam semua bidang tersebut, perubahanya radikal, fundamental, menyentuh inti bangunan dan fungsi sosial. Perubahan yang terjadi sangat cepat, tiba-tiba seperti ledakan dinamit di tengah aliran lambat historis. Revolusi membangkitkan emosional khusus dan reaksi intelektual pelakunya dan mengalami ledakan mobilitas massa, antusiasme, kegembaraan, kegembiraan, optimisme dan harapan yang semuanya melambungkan aspirasi dan pandangan utopia ke masa depan.

Konsep modern mengenai revolusi berasal dari dua tradisi intelektual, yaitu pandangan sejarah, revolusi mempunyai ciri-ciri sebagai suatu penyimpangan yang radikal dari suatu kesinambungan, penghancuran hal yang fundamental serta kejadian yang menggemparkan dalam periode sejarah. Konsep revolusi secara sosiologis menunjuk pada gerakan massa yang menggunakan paksaan dan kekerasan melawan penguasa dan melakukan perubahan dalam masyarakat.

Revolusi dibedakan menjadi tiga kelompok definisi:

1)      Definisi yang menekankan pada aspek fundamental dan tingkat transformasi masyarakat, definisi ini menfokuskan pada lingkup dan kedalaman dari suatu perubahan. Dalam hal ini revolusi bertindak sebagai antonim reformasi. Sehingga Sztompka menyatakan revolusi didefinisikan sebagai perubahan yang radikal, yang mencakup perubahan bidang politik, sosial, ekonomi, struktur masyarakat. Perubahan ini juga mencakup aspek teknologi, ilmu pengetahuan, mode pakaian dan sebagainya.

2)      Definisi revolusi yang menekankan aspek kekerasan dan perjuangan, serta kecepatan perubahan. Kelompok ini memfokuskan pada pada teknik perubahan, dimana revolusi merupakan antonim evolusi.

3)      Mendefinisikan revolusi dari kombinasi kedua aspek revolusi sebelumnya sehingga menjadi sebuah formula baru. Beberapa kelompok ahli yang berfaham ini adalah:

a)      Huntington, revolusi merupakan perubahan secara cepat, fundamental, dan kekerasan domestik dalam nilai-nilai dan tradisi masyarakat, institusi politik, struktur sosial, kepemimpinan dan aktivitas serta kebijaksanaan pemerintah.

b)      Skockpol, revolusi merupakan transformasi kehidupan masyarakat secara cepat dan mendasar dan struktur kelas yang dilakukan oleh kelas bawah.

c)       Giddens, revolusi didefinisikan sebagai perampasan kekuasaan negara melalui kekerasan oleh para pemimpin, gerakan massa, ketika kekerasan kemudian digunakan untuk memulai proses reformasi.

Secara sosiologis perubahan revolusi diartikan sebagai perubahan-perubahan sosial mengenai unsur-unsur kehidupan atau lembaga- lembaga kemasyarakatan yang berlangsung relatif cepat. Dalam revolusi, perubahan dapat terjadi dengan direncanakan atau tidak direncanakan, dimana sering kali diawali dengan ketegangan atau konflik dalam tubuh masyarakat yang bersangkutan.

Secara sosiologi suatu revolusi dapat terjadi jika memenuhi beberapa syarat tertentu, antara lain adalah :

a)      Ada beberapa keinginan umum mengadakan suatu perubahan. Di dalam masyarakat harus ada perasaan tidak puas terhadap keadaan, dan harus ada suatu keinginan untuk mencapai perbaikan dengan perubahan keadaan tersebut.

b)      Adanya seorang pemimpin atau sekelompok orang yang dianggap mampu memimpin masyarakat tersebut.

c)      Pemimpin tersebut dapat menampung keinginan-keinginan tersebut, untuk kemudian merumuskan serta menegaskan rasa tidak puas dari masyarakat, untuk dijadikan program dan arah bagi geraknya masyarakat.

d)       Pemimpin tersebut harus dapat menunjukkan suatu tujuan pada masyarakat. Artinya adalah bahwa tujuan tersebut bersifat konkret dan dapat dilihat oleh masyarakat. Selain itu, diperlukan juga suatu tujuan yang abstrak. Misalnya perumusan sesuatu ideology tersebut.

e)      Harus ada momentum untuk revolusi, yaitu suatu saat di mana segala keadaan dan faktor adalah baik sekali untuk memulai dengan gerakan revolusi. Apabila momentum (pemilihan waktu yang tepat) yang dipilih keliru, maka revolusi dapat gagal. (Suntari & Sri, 2016)

3.      Teori Siklus

Teori siklus menjelaskan bahwa  perubahan social terjadi secara bertahap (sama seperti teori evolusi), namun perubahan tidak akan berhenti pada tahapan “terakhir” yang sempurna, namun akan berputar kembali ke awal untuk peralihan ke tahapan selanjutnya sehingga digambarkan seperti sebuah siklus.

Teori siklus menjelaskan bawa perubahan social bersifat siklus artinya berputar melingkar. Menurut teori siklus, perubahan social tidak bisa direncanakan atau diarahkan ke suatu titik tertentu, tetapi berputar-putar menurut pola melingkar. Pandangan teori siklus ini yaitu perubahan osial sebagai suatu hal yang berulang-ulang. Apa yang terjadi sekarang akan memiliki kesamaan atau kemiripan dengan apa yang ada di zaman dahulu. Didalam pola perubahan social ini tidak ada proses perubahan masyarakat secara bertahap sehingga batas-batas antara pola hidup pimitif, tradisional, dan modern tidak jells. Perubahan sikluas merupakan pola perubahan yang menyerupai spiral.

Pandangan teori siklus sebenarnya telah dianut oleh bangsa Yunani, Romawi, dan ina Kuno jauh sebelumilmu social modern lahir, mereka membayangkan perjalanan hidup manusia pada dasarnya terperagkap dalam lingkungan sejarah yang tidak menentu.

Tokoh dari teori siklus :

a)      Oswald Spengler, seorang filsuf social jerman, berpandangan bahwa setiap peradaban besar menjalani proses penahapan kelahiran, pertumbuhan, dan keruntuhan. Selanjutnya perubahan social akan kembali pada tahap kelahirannya kembali.

b)      Arnlod Toynbee, seorang sejarwan social inggris, berpendapat bahwa sejarah peradaban adalah rangkaian siklus kemunduran dan pertumbuhan. Akan tetapi, masing-masing peradaban memiliki kemampuan meminjam kebudayaan lain dan belajar dari kesalahannya untuk mencapai tingkat peradaban yang tinggi, salah satu contohnya adalah kemajuan teknologi di suatu masyarakat umunya terjadi karena proses belajar dari kebudayaan lain. Kita dapat melihat kebenaran teori siklus ini dari kenyataan social sekarang. Misalnya dari perilaku mode pakaian, dan gaya kepemimpinan politik. Sebagai contoh dalam perubahan mode pakaian  seringkali kita melihat mode pakaian terbaru kadang-kadang merupakan tiruan atau mengulang model pakaian zaman dulu.Dalam bidang politik, kita juga melihat adanya perubahan bersifat siklus. Sering kita melihat upacara-upacara sosial yang dilakukan pemimpin suku di zaman kuno dilakukan kembali oleh pemimpin politik masyarakat modern sekarang, misalnya melakukan upacara-upacara yang sifatnya memuja dan memelihara tradisi turun-temurun.

Arnold Toynbee melihat bahwa peradaban muncul dari masyarakat primitif melalui suatu proses perlawanan dan respons masyarakat terhadap kondisi yang merugikan mereka. Peradaban meliputi kelahiran, pertumbuhan, kemandegan dan disintegrasi karena pertempuran antara kelompok-kelompok dalam memperebutkan kekuasaan. 

 

4.      Teori Fungsional

a.       Pengertian

Penganut teori ini memandang setiap elemen masyarakat memberikan fungsi terhadap elemen masyarakat lainnya. Perubahan yang muncul di suatu bagian masyarakat akan menimbulkan perubahan pada bagian yang lain pula.

Perubahan dianggap mengacaukan keseimbangan masyarakat. Proses pengacauan itu berhenti pada saat perubahan tersebut telah diintegrasikan ke dalam kebudayaan  (menjadi cara hidup masyarakat). Oleh sebab itu menurut  teori ini unsur kebudayaan baru yang memiliki fungsi bagi masyarakat akan diterima, sebaliknya yang disfungsional akan ditolak.

Menurut sosiolog William Ogburn, meskipun unsur - unsur  masyarakat saling berhubungan, beberapa unsurnya bisa berubah sangat cepat sementara unsur yang lain berubah secara lambat, sehingga terjadi apa yang disebutnya dengan ketertinggalan budaya ( cultural lag )  yang mengakibatkan terjadinya kejutan sosial pada masyarakat, sehingga mengacaukan keseimbangan dalam masyarakat. Menurutnya, perubahan benda-benda budaya  materi / teknologi berubah lebih cepat daripada perubahan dalam budaya non materi / sistem dan struktur sosial. Dengan kata lain, kita berusaha mengejar teknologi yang terus berubah, dengan mengadaptasi adat dan cara hidup kita untuk memenuhi kebutuhan teknologi

b.   Contoh teori perubahan sosial fungsional

a)      Penganut teori ini melihat setiap elemen masyarakat memberikan fungsi terhadap elemen masyarakat lainnya. Perubahan yang muncul di suatu bagian masyarakat akan menimbulkan perubahan pada bagian yang lain pula:

Seperti dapat dilihat saat manusia berhasil menciptakan “Roda”, telah diikuti adanya perubahan dibidang alat transportasi. Semula manusia hanya mengandalkan alat transportasi dengan Kuda, setelah adannya penemuan roda, berkembang alat transportasi baru berupa kereta kuda, sepeda, mobil, bahkan kereta api. Perubahan ini diikuti pula oleh berubahnya pola hidup masyarakat yang semula mobilitasnya rendah ( jarang keluar dari daerahnya) berubah menjadi masyarakat yang memiliki mobilitas tinggi sehingga lebih mengenal kehidupan masyarakat di luar daerahnya. Kenyataan ini diikuti oleh semakin bertambah luasnya wawasan mereka, dan selanjutnya mendorong mereka untuk melakukan perubahan-perubahan, dan seterusnya.

b)      Menurut pandangan teori Fungsionalis, setiap perubahan yang dipandang bermanfaat oleh masyarakatnya (fugsional) akan diterima, dan sebaliknya apabila dianggap tidak berguna (disfungsional)  akan  ditolak masyarakat :

Saat masyarakat masih mengandalkan matapencaharian di bidang agraris (pertanian),  anak  dibutuhkan sebagai  tenaga kerja yang dapat membantu pekerjaan orang tua untuk mengelola kegiatan pertaniannya, sehingga berkembang nilai“ banyak anak – banyak rezeqi “. Masyarakat cenderung akan menolak saat diperkenalkan adanya penemuan baru dibidang pengaturan kelahiran dan jumlah anak ( program Keluarga Berencana) karena dianggap tidak bermanfaat bagi mereka ( tidak memiliki fungsi bagi kehidupan masyarakatnya ). Kondisi ini menjadi berubah manakala masyarakat mulai meninggalkan kehidupan sektot agraris dan beralih ke sektor industri. Program Keluarga  Brencana ( KB ) bisa diterima  karena telah terjadi pergeseran nilai anak, yakni “Sedikit anak - hidup berkualitas“, sehingga program KB dianggap memiliki fungsi ( bermanfaat ) bagi masyarakatnya. Terjadilah perubahan pola kehidupan keluarga dari keluarga dengan banyak anak menjadi keluarga dengan sedikit anak. [1] (ER, 2012)

5.      Teori Konflik

 Menurut Teori Konflik adalah suatu perspektif yang memandang masyarakat sebagai sistem sosial yang terdiri atas kepentingan-kepentingan yang berbeda-beda dimana ada suatu usaha untuk menaklukkan komponen yang lain guna memenuhi kepentingan lainnya atau memproleh kepentingan sebesar-besarnya. Teori konflik Ralf Dahrendorf muncul sebagai reaksi atas teori fungsionalisme struktural yang kurang memperhatikan fenomena konflik dalam masyarakat. Dilihat dari sejarah kehidupanya Ralf Dahrendorf  lahir pada tanggal 01 Mei 1929 di Hamburg, Jerman. Ayahnya Gustav Dahrendorf dan ibunya bernama Lina. Tahun 1947-1952, ia belajar filsafat, psikologi dan sosiologi di Universitas Hamburg, dan tahun 1952 meraih gelar doktor Filsafat. Tahun 1970, ia menjadi anggota komisi di European Commission di Brussels, dan tahun 1974-1984, menjadi direktur London School of Economics di London. Kemudian tahun 1984-1986, Ralf menjadi Professor ilmu-ilmu sosial di Universitas Konstanz. Karya-karya Ralf Dahrendorf, Class and Class Conflict in Industrial,   The Modern Social Conflict Society (1959) Reflection on The Revolution in Europe (1990). [2]

Salah satu kontribusi utama teori konflik adalah meletakan landasan untuk teori-teori yang lebih memanfaatkan pemikiran Marx.  Masalah mendasar dalam teori konflik adalah teori itu tidak pernah berhasil memisahkan dirinya dari akar strukturalfungsionalnya, sedangkang teori konflik Dahrendorf berkembang sebagai reaksi terhadap fungsionalisme struktural dan akibat berbagai kritik, yang berasal dari sumber lain seperti teori Marxian dan pemikiran konflik sosial dari Simmel. Teori konflik Ralf Dahrendorf menarik perhatian para ahli sosiologi Amerika Serikat sejak diterbitkannya buku “Class and Class Conflict in Industrial Society”, (Fajri & Abidin, 2015)

C.    Sifat Manusia Menurut Teori Perubahan Sosial

Proses perubahan dalam masyarakat itu terjadi karena manusia adalah mahluk yang berfikir dan bekerja di samping itu, selalu berusaha untuk memperbaiki nasibnya serta kurang-kurangnya berusaha untuk mempertahankan hidupnya. Namun ada juga yang berpendapat bahwa perubahan sosial dalam masyarakat itu, karena keinginan manusia untuk menyesuaikan diri dengan keadaan disekelilingnya atau disebabkan oleh ekologi. Dalam proses perubahan pasti ada yang namanya jangka waktu atau kurun waktu tertentu, ada dua istilah yang berkaitan dengan jangka waktu perubahan sosial yang ada di masyarakat, yaitu ada evolusi dan revolusi, adanya evolusi atau perubahan dalam jangka waktu yang relative lama, itu akan tetap mendorong masyarakat ataupun sistem-sitem sosial yang ada atau unit-unit apapun untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Sedangkan perubahan dalam kurun waktu yang relative cepat (revolusi) yang mana itu semua disebabkan oleh berbagai aksi sejumlah kekuatan-kekuatan sosial seperti demografi, ekologis dan kelembagaan. Kemudian dari satu bagian sistem dapat mempengaruhi seluruh bagian lainnya. Adanya perubahan yang terlalu cepat memberikan implikasi terhadap masyarakat sebagai penerima perubahan, bagi masyarakat yang tergolong belum cukup siap dengan itu semua, maka akan terjadi semacam konflik dengan kelompok kelompok pengubah, namun adanya konflik yang ada merupakan bagian dari gambaran revolusi sejati.[3]

Adapun sebab utama dari perubahan sosial masyarakat

diantaranya ialah:

a.       Keadaan geografi tempat masyarakat itu berada

b.      Keadaan biofisik kelompok

c.       Kebudayaan

d.      Sifat anomi manusia

Keempat unsur tersebut saling mempengaruhi, dan akhirnya mempengaruhi bidang-bidang yang lain. (Eisenstadt, 1986)


 


 

BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa perubahan sosial merupakan perubahan yang terjadi karena adanya ketidak sesuaian di antara unsur-unsur sosial yang berbeda di dalam kehidupan masyarakat,  sehingga  menghasilkan pola kehidupan yang baru ( berbeda dengan pola kehidupan sebelumnya).ada beberapa pengertian menurut para ahli diantaranya : Kingsley Davis, John  Lewis Gillin  dan  John Philip Gillin, Robert M MacIver, Selo Soemarjan, William F. Ogburn.

Dalam Perubahan social ada beberapa teori-teori diantaranya teori evolusi merupakan perubahan yang memerlukan waktu yang lama, karena terjadi dengan sendirinya tanpa direncanakan dimana terdapat suatu rentetan perubahan kecil yang saling mengikuti dengan lambat, yang kedua yaitu teori revolusi , yang ketiga yaitu perubahan siklus Teori siklus menjelaskan bahwa  perubahan social terjadi secara bertahap ( sama seperti teori evolusi). Selanjutnya yaitu teori fungsional , dan terakhir yaitu teori Konflik. perubahan sosial dalam masyarakat itu, karena keinginan manusia untuk menyesuaikan diri dengan keadaan disekelilingnya atau disebabkan oleh ekologi.


B.      

DAFTAR PUSTAKA

 

Eisenstadt, S. (1986). Revolusi dan Transformasi Masyarakat. Jakarta: CV. Rajawali.

ER, N. D. (2012). Modul Pembelajaran Sosiologi Proses Perubahan Sosial Masyarakat. Yogyakarta: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Negeri Yogyakarta.

Fajri, & Abidin. (2015). Sosiologi Konflik dan Rekonsilasi. Nanggroe Aceh Darussalam: Unimal Press.

Marius, J. A. (2006). Perubahan Sosial. Jurnal Penyuluhan, 116.

Suntari, & Sri. (2016). Modul Pengembangan Keprofesian Lanjutan. Jakarta.

 

 



[1]Nur Djazifah ER,  Modul Pembelajaran Sosiologi Proses Perubahan Sosial di Masyarakat,(Yogyakarta : lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyarakat universitas negeri Yogyakarta 2012).hal.3-16.

[2] Fajri M Kasim| Abidin Nurdin – Universitas Malikussaleh  hal 39

 

 

 

 

 

[3]  S.N.Eisenstadt,Revolusi dan Transformasi Masyarakat,(Jakarta:CV Rajawali,1986),hal.77

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kata Mutiara

 #katakatabijak #katamutiara #katamuslimah #quotes #quotesmuslimah