Rabu, 02 Desember 2020

Makalah Proposal Penelitian Tindakan Kelas

 

PROPOSAL PTK

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah

Metodologi Penelitian Tindakan Kelas

 


Dosen Pengampu

Dr. Widyasari, M.Pd



 

  Disusun :

Elva triana

Fera Azizah Wicaksana

M. Nurdin

Suhilman

Yuliana Marfungatun Nikmah

Yulianti

 


FAKULTAS ILMU KEGURUAN DAN PENDIDIKAN

UNIVERSITAS DJUANDA

BOGOR

2020


 

KATA PENGATAR

 

Puji syukur alhamdulillah kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena telah melimpahkan rahmat-Nya berupa kesempatan dan pengetahuan sehingga makalah ini bisa selesai pada waktunya. Terima kasih juga kami ucapkan kepada teman-teman yang telah berkontribusi dengan memberikan ide-idenya sehingga makalah ini bisa disusun dengan baik dan rapi.

Kami berharap semoga makalah ini bisa menambah pengetahuan para pembaca. Namun terlepas dari itu, kami memahami bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, sehingga kami sangat mengharapkan kritik serta saran yang bersifat membangun demi terciptanya makalah selanjutnya yang lebih baik lagi.                                                                                       

 

 

Bogor, 14 November 2020

 

 

Penyusun



 

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGATAR.. i

DAFTAR ISI. iii

BAB I PENDAHULUAN.. 1

A.         LATAR BELAKANG.. 1

B.         Rumusan Masalah. 3

C.         Tujuan Penulisan. 3

BAB II. 4

PEMBAHASAN.. 4

A.         Pengertian Proposal PTK.. 4

B.          Penyusunan Proposal 5

BAB III. 15

PENUTUP. 15

A.         Kesimpulan. 15

B.         Saran. 15

DAFTAR PUSTAKA.. 16

 


 

BAB I PENDAHULUAN

 

A.    LATAR BELAKANG

Cara yang digunakan untuk mengeksplorasi informasi untuk memperoleh variasi perbaikan alternatif atas dasar aspek parktis dalam hal ini adalah memperbaiki suatu proses pembelajaran, salah satunya dapat dilakukan dengan penelitian tindakan kelas.

 Menurut Sukardi (2006: 1) kelas pada prinsipnya adalah penegasan yang mencerminkan tempat penelitian berlangsung. Penelitian tindakan di bidang pendidikan ini settingnya dapat di kelas, sekolah, atau tempat lain yang berkaitan dengan kegiatan sekolah.

Seorang guru sebagai pendidik professional dan berhubungan secara langsung dengan proses kegiatan sekolah, mempunyai kewajiban atas hal tersebut. Keprofesionalan guru tersebut menurut Aqib (2006: 10) dituntut untuk memiliki kemampuan pribadi dan kemampuan sosial.

 Di antara tugas pokok guru professional yang langsung terkait dengan penelitian tindakan kelas adalah melaksanakan pengembangan profesi, yaitu kemampuan melaksanakan penelitian sederhana dalam rangka meningkatkan kualitas professional guru, khususnya kualitas pembelajaran.

Penelitian tindakan kelas (PTK) pada dasawarsa terakhir ini, semakin lebih dikenal oleh para guru dan para pendidik, serta para pengambil kebijakan pendidikan karena penelitian tindakan kelas memang mempunyai kelebihan nyata, yaitu mampu memberikan ide, perlakuan atau treatment nyata yang berupa tindakan perbaikan praktis yang bisa dirasakan langsung oleh para responden yaitu guru atau siswa yang diteliti.

Tahap penyusunan proposal Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan awal bagi peneliti (guru dan dosen) untuk merencanakan, merumuskan, dan mendesain Penelitian Tindakan Kelas (PTK) tentang apa masalah yang diteliti, dan bagaimana solusi penyelesaian masalah penelitian tersebut. Tahap pra penelitian sering kita kenal dengan sebutan tahap mendesain penelitian ( menulis proposal). Proposal penelitian merupakan hal yang sangat penting salam suatu penelitian, karena proposal merupakan panduan atau pedoman bagi peneliti dalam melaksankan tahap penelitian.


B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas yang telah diuraikan maka ada beberapa maslah yang akan diuraikan :

  1. Apa pengertian penelitian tindakan kelas ?
  2. Bagaimana cara membuat penyusunan proposal Penelitian Tindakan Kelas (PTK)?

C.    Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut

  1. Untuk mengetahui teknik penyusunan  proposal Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Pengertian Proposal PTK

Melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) untuk meningkatkan kualitas pembelajaran  merupakan  salah  satu  tuntutan  kompetensi  guru,  oleh  karena  itu siapapun guru dan calon guru  dituntut mampu melakukan penelitian tindakan kelas untuk  peningkatan    keprofesionalan  mereka.  Proposal penelitian atau sering disebut juga sebagai usulan penelitian adalah suatu pernyataan tertulis mengenai rencana atau rancangan kegiatan penelitian secara keseluruhan. Proposal penelitian tindakan kelas PTK berkaitan dengan pernyataan atas nilai pentingnya penelitian. Membuat proposal penelitian tindakan kelas PTK bisa jadi merupakan langkah yang paling sulit namun menyenangkan di dalam tahapan proses penelitian.

dalam PTK adalah bagaimana menyusun proposal, dan bagaimana menulis laporan  PTK  setelah  mulai  mengadakan  serangkaian  tindakan.  Bagian  pertama sajian  ini  tentang  Penyusunan  Proposal  PTK berisi  tentang:

·         Isi  proposal

·         Bagian pokok 

·         Bagian  akhir  dari  proposal  PTK.

Penyusunan usulan/proposal penelitian merupakan langkah awal  penulisan penelitian.  Penyusunan proposal  mencakup  beberapa  langkah  yaitu :

 1) pengajuan usulan judul

2)  persetujuan judul 

3) pembimbingan  (jika perlu)  

4) revisi  dan

5) pengesahan proposal yang telah disetujui.

PTK  merupakan  kegiatan  nyata,  untuk  meningkatkan  mutu  PBM;

merupakan  tindakan  oleh  guru  kepada  siswa  yang  harus  berbeda  dari    kegiatan biasanya. PTK terjadi dalam siklus berkesinambungan; minimum dua siklus.   Judul memuat gambaran upaya yang dilakukan untuk perbaikan pembelajaran sesuai hasil analisis karakteristik siswa dalam pembelajaran sebelumnya, tindakan yang diambil untuk  merealisasikan  upaya perbaikan  pembelajaran,  dan setting penelitian.  Judul sebaiknya tidak lebih dari 15 kata/frasa.

 

B.     Penyusunan Proposal

Penyusunan proposal atau usulan penelitian merupakan langkah awal yang harus dilakukan peneliti sebelum memulai kegiatan penelitian tindakan kelas PTK. Proposal penelitian tindakan kelas PTK dapat membantu memberi arah pada peneliti agar mampu menekan kesalahan yang mungkin terjadi selama penelitian berlangsung. Proposal penelitian tindakan kelas PTK harus dibuat sistematis dan logis sehingga dapat dijadikan pedoman yang mudah diikuti. Proposal penelitian tindakan kelas PTK adalah gambaran terperinci tentang proses yang akan dilakukan peneliti (guru) untuk memecahkan masalah dalam pelaksanaan tugas (pembelajaran).Proposal penelitian tindakan kelas PTK

Dalam  penyusunan  usulan  penelitian/proposal  penelitian  perlu  dilakukan beberapa  kegiatan  pokok,  yaitu;

a)        mendeskripsikan  dan  menemukan  masalah dengan berbagai metode atau cara

b)       menentukan cara pemecahan masalah dengan pendekatan,  strategi,  media,  atau  kiat  tertentu  

c)        memilih  dan  merumuskan masalah  baik  berupa pertanyaan  atau pernyataan  sesuai dengan masalah  dan cara pemecahannya 

d)       menetapkan  tujuan  pelaksanaan  PTK  sesuai  dengan  masalah yang ditetapkan  

e)       memilih dan  menyusun persfektif,  konsep, dan  perbandingan yang akan mendukung dan melandasi pelaksanaan PTK

f)        menyusun siklus yang berisi rencana-rencana tindakan yang diyakini dapat memecahkan masalah-masalah yang  telah  dirumuskan  

g)       menetapkan  cara  mengumpulkan  data  sekaligus menyusun  instrumen  yang  diperlukan  untuk  menjaring  data  

h)       menetapkan  dan menyusun cara-cara analisis data.  Hasil kegiatan di atas dituangkan dalam kerangka proposal yang terdiri dari 3 bagian yang ditulis tidak lebih dari 15 halaman (khusus untuk bagian pokok). Tiga bagian  itu  adalah :

1.        bagian  awal  (halaman  sampul,  halaman  persetujuan,  Kata Pengantar dan daftar isi)

2.        Bagian  pokok  (Pendahuluan: latar belakang, rumusan masalah dan pemecahannya, tujuan dan manfaat penelitian; Kajian pustaka: kajian teori,  kajian  hasil  penelitian yang  relevan, kerangka  pikir  dan  hipotesis,  Rencana Penelitian: seting dan subyek penelitian, prosedur  PTK,  pengumpulan dan analisis data) dan,

3.        Bagian akhir. Bagian pokok propsal terdiri  dari 3 yaitu: (1) pendahuluan: latar belakang, rumusan  masalah  dan  pemecahannya,  tujuan  dan  manfaat  penelitian;  (2)  kajian Penyusunan Proposal Penelitian Tindakan Kelas (Slameto) pustaka:  kajian  teori,  kajian  hasil  penelitian  yang  relevan,  kerangka  pikir  dan hipotesis, dan (3)  rencana penelitian: setting dan subyek penelitian, prosedur PTK, pengumpulan dan analisis data.

 

1) Pendahuluan

Pendahuluan  proposal  penelitian berisi:  latar  belakang  permasalahan, permasalahan  penelitian, cara  pemecahan  masalah,  rumusan masalah,  tujuan  dan manfaat penelitian.

 

·         Latar Belakang Masalah

Dalam latar  belakang  permasalahan  diuraikan urgensi penanganan  perma-salahan yang diajukan itu melalui PTK. Untuk  itu,  harus ditunjukkan fakta – fakta yang mendukung, baik yang berasal dari pengamatan guru selama ini maupun dari kajian  pustaka.  Dukungan beberapa  hasil  penelitian–penelitian  terdahulu  (apabila ada) juga akan lebih mengokohkan argumentasi mengenai urgensi serta signifikansi permasalahan yang akan ditangani melalui PTK yang diusulkan. Karakteristik khas PTK  yang  berbeda  dari  penelitian  formal  hendaknya  tercermin  dalam  uraian  di bagian  ini.  Untuk  itu  beberapa  hal  berikut  ini  perlu  dimasukkan  dalam  latar belakang masalah.

Menuliskan kenyataan yang ada (kondisi awal);  Kondisi  awal  sesuai dengan  permasalahan  yang diteliti;  Contoh:  ”Permasalahan pokok, misalnya  hasil belajar matematika bagi peserta didik kelas V rendah” diuraikan berdasarkan fakta rendahnya  itu  dibuktikan dari  mana,  berapa rata-rata  nilai ulangan  harian,  berapa banyak  peserta  didik  yang  belum  tuntas,  ’siapa”  saja  yang  belum  tuntas,  dan sebagainya  (sesuai  data  riel  dari  SD  tersebut).  Kemudian  menetapkan  masalah pokok  yaitu  yang  mengandung  kondisi  awal  dari  subyek  yang  diteliti.  Selain  itu menuliskan  masalah  lain  yaitu  masalah  yang  mengandung  kondisi  awal permasalahan yang  menyelimuti  guru sebagai peneliti:  misalnya selama ini  belum

memanfaatkan  alat  peraga  tertentu  dalam  pembelajaran  matematika;  berdasarkan fakta bila belum menggunakan alat peraga, menggunakan cara apa.

Menuliskan harapan yang  dituju (kondisi akhir),  yaitu  kondisi  setelah dilakukan  penelitian.  Harapan  yang    dituju  (kondisi akhir)  dapat  berupa  kondisi akhir yang diteliti atau bagi subyek penelitian (peserta didik/guru/kepsek), maupun kondisi  akhir  peneliti.  Kondisi  akhir  yang  diteliti  (peserta  didik),  misalnya meningkatnya  hasil  belajar  matematika  pada  operasi  hitung  bilangan  pecahan.

Berapa nilai rata-rata  ulangan harian yang  diharapkan  setelah penelitian, mengapa perlu  ditingkatkan.  Kondisi  akhir  peneliti  (guru),  misalnya  memperbaiki  proses pembelajaran dengan memanfaatkan penggunaan alat peraga tertentu.

·         Permasalahan Penelitian 

Menulis  masalah  yaitu  kesenjangan  antara  kenyataan  dan  harapan; Kesenjangan yang dimaksud adalah 1: kesenjangan antara kondisi awal dan kondisi akhir masalah pokok dari subyek penelitian, 2: kesenjangan antara kondisi awal dan kondisi  akhir  masalah  lain    dari  peneliti.  Menulis  masalah  yang  dihadapi  yaitu adanya  kesenjangan  antara  harapan  (kondisi  akhir)  dengan  kenyataan  (kondisi awal):  Masalah  yang  diteliti,  nilai  ulangan  kenyataan  (kondisi  awal)-nya  masih rendah,  harapan  (kondisi  akhir)-nya  meningkat;  Masalah  peneliti,  kondisi  awal pembelajarannya  belum  memanfaatkan  alat  peraga,  harapan  (kondisi  akhir)-nya menggunakan alat peraga Permasalahan yang  diusulkan untuk ditangani  melalui PTK  itu dijabarkan secara lebih rinci dalam bagian ini. Masalah hendaknya benar-benar di angkat dari masalah keseharian di sekolah yang  memang  layak dan perlu diselesaikan melalui PTK.  Sebaliknya  permasalahan  yang  dimaksud  seyogyanya  bukan  permasalahan yang secara teknis metodologik di luar jangkauan PTK. Uraian permasalahan yang ada  hendaknya  didahului  oleh  identifikasi  masalah,  yang  dilanjutkan  dengan analisis masalah serta diikuti dengan refleksi awal sehingga gambaran permasalahan yang  perlu  di  tangani  itu  nampak  menjadi  perumusan  masalah  tersebut.  Dalam bagian ini dikunci dengan perumusan masalah tersebut.

 

·         Cara Pemecahan Masalah

Dalam  bagian  ini  dikemukakan  cara  yang  diajukan  untuk  memecahkan masalah yang dihadapi. Alternatif pemecahan yang diajukan hendaknya mempunyai landasan  konseptual  yang  mantap  yang  bertolak  dari  hasil  analisis  masalah.  Di samping itu, juga  harus terbayangkan kemungkinan kemanfaatan hasil  pemecahan masalah  dalam  rangka  pembenahan  dan/atau  peningkatan  implementasi  programpembelajaran  dan/atau  berbagai  program  sekolah  lainnya.Juga  harus  dicermati artikulasi kemanfaatan PTK berbeda dari kemanfaatan penelitian formal. Menulis  cara  pemecahan  masalah,  perlu  adanya:  identifikasi  masalah, pembatasan  masalah  dan  perlu  adanya  solusi.  Pada  saat  melakukan  identifikasi masalah,  guru sudah  harus  mengkaji  berbagai  literatur yang  relevan.  Identifikasi Masalah pada umumnya berupa pertanyaan, banyaknya pertanyaan selalu lebih dari satu  sehingga  banyaknya  pertanyaan  lebih  banyak  dari  banyaknya  rumusan masalah.  Penggunaan  kalimat  tanya dimulai  dari yang  komplek  (holistik)  sampai yang spesifik (atomistik). Kalimat tanya tersebut tidak harus dijawab, karena hanya sebagai identifikasi  masalah; Kalimat  tanya tersebut  harus  mengacu/  mengandung variabel pada masalah pokok (Y). 

Pembatasan  Masalah  diperlukan  adanya  pembatasan  masalah  agar penelitian  lebih terfokus;  Langkah  awal,  membatasi  banyaknya  variabel  yang diteliti,  variabel  apa  saja.  Membatasi atau  menjelaskan variabel  terikat, misalnya  Penyusunan Proposal Penelitian Tindakan Kelas (Slameto)untuk peserta  didik mana, kelas  berapa, semester kapan,  tahun kapan, materi  apa dan  sebagainya.  Membatasi  atau  menjelaskan  variabel  bebas  (X),  misalnya,  alat peraganya apa, apa yang dilakukan, siapa yang melakukan, kapan tindakan itu akan dilakukan.

·         Rumusan Masalah 

Rumusan masalah dikembangkan dari identifikasi dan pembatasan masalah Umumnya  berbentuk  kalimat  tanya.  Kalimat  tanya  pada  rumusan  masalah  lebih terinci  karena  telah  melalui  identifikasi  dan  pembatasan  masalah. Kalimat Tanya yang  diajukan  mengacu  ke  variabel  pada  masalah  pokok  (Y) dan    variabel  pada masalah lain  yang   diteliti (X).  Kalimat tanya  pada rumusan  masalah kelak  harus terjawab setelah pelaksanaan tindakan. Kualitas penelitian sangat dipengaruhi oleh kualitas  jawaban  bukan  hanya  banyaknya  rumusan  masalah.  Rumusan  masalah  akan dipakai sebagai dasar untuk  penentuan  teori yang akan digunakan; Selain itu juga  sebagai  arah  dalam  menentukan  judul  penelitian,  sebagai  arah  dalam menentukan metode penelitian dan sebagai arah dalam menentukan jenis penelitian

·         Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan  PTK  hendaknya  dirumuskan  secara  jelas.paparkan  sasaran  antara dan  akhir  tindakan  perbaikan.perumusan  tujuan  harus  konsisten  dengan  hakekat permasalahan  yang  dikemukakan  dalam  bagian–bagian  sebelumnya.  Dengan sendirinya, artikulasi tujuan PTK berbeda dari tujuan formal. Sebagai contoh dapat dikemukakan  PTK  di  bidang  IPA  yang  bertujuan  meningkatkan  prestasi  peserta didik  dalam  mata  pelajaran  IPA  melalaui  penerapan  strategi  PBM  yang  baru, pemanfaatan  lingkungan  sebagai  sumber  

2) Kajian Pustaka

Pada  bagian  ini  berisi  kajian  teori,  penelitian  yang  relevan  (bila  ada), kerangka berpikir  dan  hipotesis  tindakan.  Uraikan  dengan  jelas  kajian  teori  dan pustaka  yang  menumbuhkan  gagasan  yang  mendasari  rancangan  penelitian tindakan. Kemukakan juga teori, temuan dan bahan penelitian lain yang mendukung pilihan  tindakan  untuk  mengatasi  permasalahan  penelitian  tersebut.  Uraian  ini digunakan  untuk  menyusun kerangka  berpikir  atau  konsep  yang  akan digunakan dalam  penelitian. Pada  bagian  akhir  dapat  dikemukakan  hipotesis  tindakan yang menggambarkan indikator keberhasilan tindakan yang diharapkan/diantisipasi. 

·         Kajian Teori

Pada  kajian  teori  dipaparkan  landasan  substantive  dalam  arti  teoritik  dan/atau metodologik  yang  dipergunakan  peneliti  dalam  menentukan  alternatif  yang  akan diimplementasikan. Tinjauan  pustaka  berisi falsafah  dasar, teori,  dan  konsep yang

sangat  erat  kaitannya dengan  scope penelitian  yang  akan  didilakukan.  Teori-teori yang  diambil  harus  relevan  dengan:  (1) permasalahan  dilihat dari  isinya, dan  (2) variabel  yang  diteliti  dilihat  dari  judul/sub  judul  yang  ditulis  pada  kajian  teori terutama variabel  tindakan (X) harus dijelaskan bukan hanya teori tentang apa dan mengapa penting,  tetapi bagaimana  secara  teoritis implementasi  variabel X  dalam pembelajaran.  Tinjauan  pustaka  diambil  dari  teori-teori  yang  terbaru  dan  dari berbagai  aliran.  Untuk  keperluan  itu,  dalam  bagian  ini  diuraikan  kajian  baik pengalaman peneliti pelaku PTK sendiri yang relevan maupun pelaku–pelaku PTK lain  disamping  terhadap  teori–teori  yang  lazim  termuat  dalam  berbagai kepustakaan. Setelah itu dilanjutkan dengan ulasan teoritik. 

 

·         Variabel yang Akan Diteliti

Pada  bagian  variabel  yang  akan  diselidiki  ditentukan  variabel-variabel penelitian  yang  dijadikan  titik-titik  incar  untuk  menjawab  permasalahan  yang dihadapi.  Variabel  tersebut  dapat  berupa  (1)  variabel  input  yang  terkait  dengan peserta didik, guru, bahan pelajaran, sumber belajar, prosedur evaluasi, lingkungan belajar,  dan  lain  sebagainya;  Namun  dalam  PTK,  lazimnya  variabel  X  yaitu tindakan  guru  merupakan  variabel  (2)  proses  penyelenggaraan  KBM  seperti interaksi belajar-mengajar,  keterampilan bertanya,  guru, gaya  mengajar  guru, cara belajar  peserta  didik,  implementasi  berbagai  metode  mengajar  di  kelas  yang inovatif,  dan  sebagainya,  dan  (3)  varaibel  output  (Y)  seperti  rasa  keingintahuan peserta  didik,  kemampuan  peserta  didik  mengaplikasikan  pengetahuan,  motivasi peserta didik,  hasil belajar peserta  didik,  sikap terhadap  pengalaman  belajar yang

telah digelar melalui tindakan perbaikan dan sebagainya.

·         Rencana Tindakan  

Pada bagian rencana tindakan ini digambarkan rencana tindakan yang akan

dilakukan untuk meningkatkan pembelajaran, seperti:

(1) Perencanaan,  yaitu  persiapan  yang  dilakukan  sehubungan  dengan  PTK  yang diprakarsai  seperti  penetapan  entry behavior.  Pelacakan  tes  diagnostik  untuk menspesifikasi  masalah.  Pembuatan  skenario  pembelajaran  dengan  minimal  4 kali  pertemuan  tatap  muka  (penyajian  materi,  penilaian  hasil  belajar  peserta didik,  analisis  hasil penilaian,  dan  tindak  lanjut  yang dapat  berupa  pengajaran remedial dan  atau  pengayaan), pengadaan alat–alat  dalam rangka implementasi PTK, dan  lain–lain yang  terkait bdengan  pelaksanaan  tindakan  perbaikan  yang perlu ditetapkan  sebelumnya.  Disamping  itu  juga  diuraikan alternatif–alternatif solusi yang akan dicobakan dalam rangka perbaikan masalah. 

(2) Implementasi Tindakan  yaitu  skenario  kerja  tindakan  perbaikan  dan  prosedur tindakan yang akan diterapkan.

(3) Observasi dan Interpretasi  yaitu  uraian  tentang  prosedur  perekaman/observasi dan  penafsiran  data  mengenai  proses  dan  produk  dari  implementasi  tindakan perbaikan yang dirancang.

(4) Analisis dan Refleksi  yaitu  uraian  tentang  prosedur  analisis  terhadap  hasil pemantauan  dan  refleksi  berkenaan  dengan  proses  dan  dampak  tindakan perbaikan  yang  akan  digelar,  personel  yang  akan dilibatkan  serta kriteria  dan rencana bagi tindakan daur berikutnya.

·         Data dan Cara Pengumpulannya  

Pada  bagian  data  dan  cara  pengumpulannya  ini ditunjukkan  dengan jelas jenis  data  yang  akan  dikumpulkan  yang  berkenaan dengan  baik (variabel  X) yaitu proses  tindakan  guru  dan  respon  siswa  maupun  dampak  tindakan  perbaikan Penyusunan Proposal Penelitian Tindakan Kelas (variabel  Y)  yang  di  gelar,  yang  akan  digunakan  sebagai  dasar  untuk  menilai keberhasilan  atau  kekurang-berhasilan  tindakan  perbaikan  pembelajaran  yang dicobakan.  Format  data  dapat  bersifat  kualitatif,  kuantitatif,  atau  kombinasi keduanya.

Di  samping  itu  teknik pengumpulan  data setiap  variabel yang  diperlukan juga  harus  diuraikan  dengan  jelas  seperti  melalui  pengamatan  partisipatif, pembuatan  jurnal  harian,  observasi  aktivitas  di  kelas  (termasuk  berbagai kemungkinan  format  dan  alat bantu  rekam  yang  akan  digunakan)  penggambaran interaksi  dalam  kelas  (analisis  sosiometrik),  pengukuran  hasil  belajar  dengan berbagai  prosedur  asesmen  dan  sebagainya.  Selanjutnya  dalam  prosedur pengumpulan data PTK ini tidak boleh dilupakan bahwa sebagai pelaku PTK, para guru juga harus aktif sebagai pengumpul data, bukan semata-mata sebagai sumber

data. Akhirnya semua teknik pengumpulan data yang digunakan harus mendapat penilaian kelaikan yang cermat dalam konteks PTK yang khas itu. Sebab meskipun mungkin  saja  memang  menjanjikan  mutu  rekaman  yang  jauh  lebih  baik, penggunaan  teknik  perekaman data  yang canggih  dapat  saja  terganjal  keras  pada tahap tayang ulang dalam rangka analisis dan interpretasi data.

Validasi  diperlukan  agar  diperoleh  data  yang  valid.  Validitas  yang  akan digunakan  perlu  disesuaikan  dengan  data  yang  akan  dikumpulkan.  Untuk  data kuantitatif  (berbentuk  angka)  umumnya  yang  divalidasi  instrumennya.  Validitas yang digunakan, validitas  teoretik  maupun validitas empirik. Untuk  itu  diperlukan kisi-kisi  agar terpenuhinya  validitas  teoretik.  Data  kualitatif (misalnya  observasi, wawancara),  dapat  divalidasi  melalui  triangulasi: triangulasi  sumber, data  berasal dari beberapa sumber. Atau triangulasi metode, data berasal dari  beberapa metode.

·         Indikator kinerja

pada bagian ini tolak ukur keberhasilan tindakan perbaikan ditetapkan secara eksplisit sehingga memudahkan verifikasinya untuk tindakan perbaikan melalui penelitian tindakan kelas PTK yang bertujuan mengurangi kesalahan konsep siswa misalnya perlu ditetapkan kriteria keberhasilan yang diduga sebagai dampak dari implementasi tindakan perbaikan yang dimaksud.

·         Analisis Data

Analisis  data  yang akan  digunakan  sesuai  dengan  metode dan  jenis data yang dikumpulkan.  Pada PTK, data yang dikumpulkan dapat  berbentuk kuantitatif maupun kualitatif. Pada PTK tidak harus menggunakan uji statistik,  tetapi bisa saja cukup  dengan  deskriptif.  Data  kuantitatif  menggunakan  analisis  diskriptif komparatif yaitu  membandingkan  misalnya nilai tes kondisi awal, nilai tes setelah  siklus  1  dan   nilai  tes setelah  siklus 2.  Data  kualitatif  hasil  pengamatan  maupun wawancara  menggunakan  analisis  diskriptif kualitatif  berdasarkan hasil  observasi dan refleksi dari tiap-tiap siklus.

Pada  bagian  akhir  proposal  berisi  daftar  pustaka  dan  lampiran.  Daftar pustaka  yang  akan  dipakai  dalam  penelitiandisusun  menurut  urutan  abjad pengarang;  hendaknya  pustaka  benar–benar  relevan  dan  sungguh–sungguh  akan  dipergunakan dalam penelitian. Bagaimana  menyusun dan memanfaatkannya akan dibahas lebih lanjut pada bab IV. observasi, panduan diskusi/refleksi, instrumen penelitian yang akan digunakan, dan lain-lain.  Hal–hal  lain  yang  dapat  memperjelas  karakteristik  kancah  PTK  yang diusulkan dapat disertakan dalam usulan penelitian ini.

 

BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Proposal Penelitian Tindakan Kelas (PTK) itu sendiri adalah proses pengkajian masalah pembelajaran didalam kelas melalui refleksi diri dalam upaya untuk memecahkan masalah tersebut dengan cara melakukan berbagai tindakan yang terencana dalam situasi yang nyata serta menganalisis pengaruh-pengaruh dari perlakuan tersebut. Tujuan penelitian tindakan kelas termasuk tiga hal, peningkata praktik, pengembangan professional, dan peningkatan situasi tempat praktik berlangsung.

B.     Saran

Semoga makalah ini bermanfaat dan digunakan sebagai mestinya dengan adanya makalah ini, penulis mengharapkan kepada pembaca agar dapat mengetahui tentang proposal Penelitian Tindakan Kelas itu. Penulis juga mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah yang berikutnya.

                                               

                                                 


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Arikunto, S.,  Suhardjono, dan  Supardi, 2008.  Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Bumi Aksara

Hatimah,  I.,  Susilana,  R.,  dan  Nuraedi,  2008.  Penelitian Pendidikan.  Jakarta: Depdiknas Dirjen PT

Slameto, 2008.  Proposal, Pelaksanaan dan Evaluasi Keberhasilan PTK.

Seminar Nasional IKIP PGRI Semarang 19 Juni 2008 Slameto,  2011.  Penyusunan Proposal dan Hasil Penelitian Tindakan Kelas.

Madya, S. 2006. Teori dan Praktik Penelitian Tindakan. Bandung: Alfabeta.

Tim Pelatihan Tindakan UNY. 1999. Kumpulan Materi Penelitian Tindakan (Action Research). Yogyakarta:Lemlit UNY.


 

 

Minggu, 04 Oktober 2020

Senin, 14 September 2020

PENDEKATAN DALAM APRESIASI SASTRA INDONESIA

 

PENDEKATAN DALAM APRESIASI SASTRA INDONESIA

 

Di Susun Untuk Memenuhi Mata Kuliah Apresiasi Sastra Indonesia Di SD

Dosen Pengampu : Teguh Prasetyo, M.Pd

 

Disusun oleh :

 

Elva Triana                                        ( H.1711031 )

Fera AzizahWicaksana                     ( H.1711159 )

Yuliana Marfungatun Nikmah        ( H.1710415 )

Pitaria Devi Putri Sijabat                 ( H. 1711108 )

  

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS DJUANDA

BOGOR

2020

                                                          

KATA PENGANTAR

  

Puji dan syukur kepada Allah SWT kami panjatkan, karena atas berkat dan rahmatnya kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu, tanpa pertolongan-Nya penulis tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik. Sholawat serta salam terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita Nabi Muhammad SAW yang kita semua nantikan syafa’atnya di akhirat nanti.

Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-Nya, baik itu berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga penulis mampu untuk menyelesaikan makalah ini sebagai tugas dari mata kuliah Apresiasi Sastra Indonesia dengan judul  Apresiasi Prosa Fiksi”.

Banyak sekali hambatan dalam penyusunan makalah ini baik itu masalah waktu, sarana, dan lain lain. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya makalah ini nantinya dapat menjadi makalah yang lebih baik lagi. Demikian, dan apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Kami harapkan makalah ini nantinya akan berguna bagi para pembaca, terima kasih.

 


Bogor, 09 April 2020

 

 

Penulis


BAB I

PENDAHULUAN

            A.    Latar Belakang

Prosa dalam kesusastraan sering disebut juga dengan istilah fiksi. Kata prosa diambil dari Bahasa Inggris, yakni Prose. Prosa atau fiksi memiliki sebuah arti kata naratif yang menceritakan sesuatu yang bersifat rekaan, khayalan, tidak berdasarkan kenyataan atau dapat juga berarti suatu kenyataan yang lahir berdasarkan kenyataan.

(Sudjiman, 1984 : 17) menyatakan bahwa fiksi adalah ceritaa rekaan, kisahan yang mempunyai tokoh, lakuan dan alur yang dihasilkan oleh daya khayal atau Imajinasi. Jika berbicara fiksi, maka konteksnya mengingatkan pada karya sastra. Sebaliknya jika berbicara karya sastra, maka konteks tersebut akan mengarahkan pada sebuah karya sastra yang bersifat fiktif.

Secara umum prosa/fiksi memiliki arti sebuah cerita rekaan yang kisahannya mempunyai aspek tokoh, alur, tema, dan pusat pengisahan yang keseluruhannya dihasilkan oleh daya imajinasi pengarang.

Cerita fiksi dapat memancing imajinasi seseorang dalam membuat atau menciptakan sebuah cerita. Cerita fiksi di kategorikan ke dalam salah satu karya tulis non ilmiah. Karena cerita ini bersifat subjektif artinya tidak terjadi di dunia nyata sama sekali. Karena subjektiflah, cerita ini bisa membawa kita untuk berimajinasi.

Tokoh, peristiwa, dan tempat yang disebut-sebut dalam fiksi adalah bersifat imajinatif, sedang pada karya nonfiksi bersifat factual. Sebagai karya imajiner, fiksi menawarkan berbagai permasalahan manusia dan kemanusiaan, hidup dan kehidupan, yang dituangkan secara sungguh-sungguh melalui perenungan yang intens dan bukan hanya sebagai hasil lamunan saja, tetapi penuh tanggung jawab dan kesadaran kreativitas yang diungkapkan kembali melalui sarana fiksi.

(Muliadi, 2017 : 1) mengatakan bahwa fiksi atau prosa adalah “ salah satu jenis gengre sastra, di samping gengre lainnya. Gengre lain yang di maksud ialah puisi dan drama. Prosa termasuk karya sastra yang disebut cerpen, cerber, dan novel “.

            B.     Rumusan Masalah  

1.        Jelaskan hakikat dari apresiasi sastra prosa fiksi?

2.        Apa saja bentuk-bentuk pengajaran apresiasi prosa fiksi?

3.        Manfaat apresiasi sastra pada prosa fiksi?

            C.    Tujuan Penulisan

Untuk mendeskripsikan hakikat sebuah cerita prosa baik itu dalam cerita fiksi atau non fiksi.

BAB II

PEMBAHASAN

             A.    Hakikat dari apresiasi sastra

Kata apresiasi berasal dari bahasa latin apreciatio yang berarti menghargai, mengindahkan. Dalam perkembangannya istilah itu mengacu pada kualifikasi aktifvitas tertentu seperti memahami dan menyenangi, memberikan penghargaan dengan nilai tinggi, menjadi peka, menaksir dan menghargai secara kritis.[1]

Dengan demikian apresiasi sastra adalah memberikan penilaian terhadap karya sastra. Ketika mengapresiasikan sebuah karya sastra, maka hal-hal yang harus dilakukan berupa pengamatan, penilaian, dan memberikan penghargaan terhadap karya sastra tersebut.

Bentuk apresiasi sastra yang diharapkan dapat berwujud kegiatan langsung maupun tak langsung. Apresiasi yang pertama dapat diwujudkan dengan cara membaca dan atau menikmati karya-karya sastra kreatif secara langsung, dengan segala bentuk dan ragamnya. Dalam membaca sebuah novel, misalnya sebaiknya para siswa langsung dihadapkan pada karya karya novel yang dianjurkan dan bukan melalui sinopsisnya seperti yang sering dilakukan di sekolah-sekolah. Adapun bentuk apresiasi yang kedua bisa dilakukan melalui berbagai cara yang dipandang dapat menunjang penikmatan dan atau pemahaman terhadap suatu karya kreatif. Bentuk-bentuk apresiasi sastra tak langsung itu, antara lain melalui membaca berbagai kritik sastra atau ulasan para ahli, menonton film atau sinetron yang diangkat dari sebuah novel atau drama, menonton pagelaran teater, mendokumentasikan karya-karya sastra, melaksanakan kegiatan baca puisi dan deklamasi, atau menyelenggarakan lomba baca maupun lomba cipta karya sastra kreatif seperti puisi dan cerpen.[2]

Tujuan dari apresiasi pengajaran prosa fiksi adalah untuk menumbuhkan pemahaman, penghayatan, dan penikmatan terhadap  cipta sastra guna memperluas wawasan kehidupan, mempertajam kepekaan perasaan, kepekaan dan kesadarean sosial serta religi. Idsamping itu juga memperhalus budi pekerti dan memperkaya pengetahuan dan keterampilan berbahasa.

 

B.     Bentuk-bentuk pengajaran apresiasi prosa fiksi

        Dengan didasarkan pada konsep dan prinsip-prinsip pembelajaran apresiasi                 sastra yang diuraikan di atas, di bawah ini penulis contohkan teknik-teknik                             penerapannya. 

1.      Apresiasi Melalui Pembacaan Cerpen 

Untuk melakukan pembelajaran ini, tahap-tahapnya dapat mengacu pada model pembelajaran yang dikemukakan H.L.B. Moody, yang terdiri atas pelacakan pendahuluan, penentuan sikap praktis, introduksi, penyajian, diskusi, dan pengukuhan, sementara metode dan tekniknya bisa dikembangkan sendiri.  Pelacakan pendahuluan dan penentuan sikap praktis merupakan tahap persiapan (perencanaan) sebelum guru melaksanakan  pembelajaran di kelas. Dalam hal ini guru memilih bahan yang akan diapresiasikan. Pemilihan bahan, dalam hal ini  karya cerpen, tentunya mengacu pada kesesuaiannya dengan siswa. Guru memutuskan cerpen apa yang akan disajikan. Oleh karena metode penyajian serpen itu akan dilakukan lewat pembacaan cerpen, guru hendaknya memilih cerpen yang lebih banyak unsur dialog daripada narasi agar menarik siswa.  Pada saat pelaksanaan pembelajaran di kelas, pertama-tama tentunya guru melakukan introduksi, yang dimulai dengan apersepsi hingga memberi pengantar tentang pembelajaran yang dilakukan pada pertemuan tersebut. Setelah introduksi ini jelas bagi siswa, guru membagikan teks cerpen kepada siswa. 

Langkah berikutnya yang merupakan tahap penyajian, (1) guru mengajak siswa untuk membaca cerpen tersebut dalam hati dalam beberapa menit. (2) Apabila siswa selesai membaca, guru bertanya apakah siswa dapat menangkap/memahami cerpen tersebut. Guru dapat menanyakan barangkali ada bagian-bagian yang sulit dipahami siswa, baik dari segi bahasanya, maupun dari segi lainnya. (3) Guru mengajak siswa untuk melakukan pembacaan cerpen oleh beberapa orang siswa. Guru mengajak kelas untuk menentukan para pembaca cerpen tersebut sesuai dengan jumlah tokoh yang ada dalam cerpen, dan menentukan siapa saja yang menjadi tokohtokoh tersebut. Tidak lupa pula ditentukan naratornya. (4) Guru menjelaskan secara singkat kepada siswa teknik pembacaan cerpen, baik dari segi vokal, gestur, maupun mimik. (5) Guru meminta siswa yang telah ditentukan sebagai pembaca cerpen untuk maju ke depan kelas dan membacakan cerpen sesuai dengan perannya masing-masing dengan mengeksplorasi teknik pembacaan cerpen, baik dari segi vokal, gestur, maupun mimik.  Setelah pembacaan cerpen selesai, guru mengajak siswa berdiskusi tentang cerpen tersebut..

            Dengan bertanya jawab, guru menanyakan (1) keterlibatan jiwa siswa dengan cerpen tersebut. Misalnya dengan menanyakan kesan dan perasaan siswa tentang cerita dalam cerpen tersebut, perasaan terhadap tokoh-tokohnya, dan lain-lain; (2) penilaian siswa tentang kemampuan teknis pengarang dalam mengolah unsur-unsur cerpen; (3) relevansi cerpen tersebut dengan kehidupan siswa pribadi, maupun kehidupan masyarakat secara luas.  Berikutnya adalah tahap pengukuhan, yang merupakan penguatan terhadap PBM di atas. Guru dapat memberi tugas, misalnya menyuruh siswa menuliskan kembali keterlibatan jiwa mereka dengan cerpen tersebut. Teknik di atas dapat dieksplorasi lagi dan divariasikan oleh para guru, misalnya teknik pembacaan cerpennya disajikan menggunakan media pemutar audio/video (tape recorder, vcd atau dvd  player), atau seseorang yang sengaja diundang guru ke kelas sebagai yang bisa dijadikan model. Tentang materi yang didiskusikan, guru bisa menyesuaikannya dengan kompetensi dasar. 

2.      Mendengarkan Dongeng 

Pembelajaran ini dapat dilakukan dengan cara, misalnya, guru mendongeng menggunakan alat peraga. Apabila siswa telah menyimak ceritanya, guru meminta siswa bermain peran tentang cerita yang didongengkan guru, lalu mengungkapkan hal-hal menarik dari dongeng tersebut. 

3.      Menulis Cerpen /Dongeng 

Pembelajaran ini dapat dilakukan melalui serangkaian metode, seperti:  copy the master. Caranya, guru memenggal sebuah cerpen, lalu menyuruh siswa untuk melanjutkannya dengan imajinasi masing-masing;  guru mengajak siswa bermain peran yang permainan ini melahirkan cerita. Cerita tersebut sudah terbentuk unsur-unsurnya, namun akhir cerita dibiarkan menggantung. Siswa diminta untuk mengembangkannya dengan menulis cerpen/dongeng. 

C.     Pengertian Prosa dan Jenis-jenis Prosa

Karya sastra menurut ragamnya dibedakan atas prosa, puisi, dan drama. Karya sastra fiksi atau biasa disebut cerita rekaan, merupakan salah satu jenis karya sastra yang beragam prosa. Adapun pengertian prosa fiksi menurut Aminuddin dalam Djuanda dan Iswara (2006:158) adalah “kisahan atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeran, latar serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasilimajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu cerita”.  

1.      Jenis-jenis Prosa 

a.       Prosa Modern

       Yang termasuk kedalam prosa modern yaitu :

a)      Cerita pendek/cerpen, adalah cerita berbentuk prosa yang pendek.

b)      Novelet, adalah cerita yang panjangnya lebih panjang dari cerpen, tetapi lebih pendek dari novel.

c)      Novel/roman, adalah cerita berbentuk prosa yang menyajikan permasalahnpermasalahan secara kompleks, dengan penggarapan unsur-unsurnya secara lebih luas dan rinci.

d)      Cerita anak, adalah cerita yang mencakup rentang umur pembaca beragam, mulai rentang 3-5 tahun, 6-9 tahun, dan 10-12 tahun (bahkan 13 dan 14) tahun.

e)      Novel remaja (chicklit dan teenlit), adalah novel yang ditulis untuk segmen pembaca remaja.   

b.      Prosa lama Yang termasuk kedalam prosa lama yaitu :

a)   Dongeng, adalah cerita yang sepenuhmya merupakan hasil imajinasi atau khayalan pengarang di mana yang diceritakan seluruhnya belum pernah terjadi.

b)  Fabel adalah cerita rekaan tentang binatang dan dilakukan atau para pelakunya binatang yang diperlakukan seperti manusia. Contoh: Cerita Si Kancil yang Cerdik, Kera Menipu Harimau, dan lain-lain.

c)       Hikayat adalah cerita, baik sejarah, maupun cerita roman fiktif, yang dibaca untuk pelipur lara, pembangkit semangat juang, atau sekedar untuk meramaikan pesta. Contoh; Hikayat Hang Tuah, Hikayat Seribu Satu Malam, dan lain-lain.

d)      Legenda adalah dongeng tentang suatu kejadian alam, asal-usul suatu tempat, benda, atau kejadian di suatu tempat atau daerah. Contoh: Asal Mula Tangkuban Perahu, Malin Kundang, Asal Mula Candi Prambanan, dan lain-lain.

e)       Mite adalah cerita yang mengandung dan berlatar belakang sejarah atau hal yang sudah dipercayai orang banyak bahwa cerita tersebut pernah terjadi dan mengandung hal-hal gaib dan kesaktian luar biasa. Contoh: Nyi Roro Kidul.

f)   Cerita Penggeli Hati, sering pula diistilahkan dengan cerita noodlehead karena terdapat dalam hampir semua budaya rakyat. Cerita-cerita ini mengandung unsur komedi (kelucuan), omong kosong, kemustahilan, ketololan dan kedunguan, tapi biasanya mengandung unsur kritik terhadap perilaku manusia/mayarakat. Contohnya adalah Cerita Si Kabayan, Pak Belalang, Lebai Malang, dan lain-lain.

g)     Cerita Perumpamaan adalah dongeng yang mengandung kiasan atau ibarat yang berisi nasihat dan bersifat mendidik. Sebagai contoh, orang pelit akan dinasihati dengan cerita seorang Haji Bakhil 

2.      Unsur Cerita Fiksi 

Teks cerita fiksi adalah karya sastra yang berisi cerita rekaan atau didasari dengan angan-angan (fantasi) dan bukan berdasarkan kejadian nyata, hanya berdasarkan imajinasi pengarang. Imajinasi pengarang diolah berdasarkan pengalaman, wawasan, pandangan, tafsiran, kecendikiaan, penilaian nya terhadap berbagai peristiwa, baik peristiwa nyata maupun peristiwa hasil rekaan semata. Cerita fiksi atau Fiksi sering dimaknai sebagai cerita khayalan. Secara umum fiksi lebih sering dikaitkan dengan cerita pendek atau novel. Karya fiksi, sebagaimana bentuk karya sastra yang lainnya, seperti drama 2 dan puisi, dibangun atas unsur-unsur yang juga menandai kekhasan bentuk karya tersebut. Dalam cerita fiksi unsur-unsur pembangunnya antara lain adalah plot, karakter, tema, latar, dan sudut pandang.

Penulisan cerita fiksi yang bagus sekiranya harus memiliki lima unsur. Kesemua unsur tersebut adalah bahan paling penting untuk kita gunakan dalam membuat cerita fiksi yang memikat, indah, menawan, memukau, sehingga membuat pembaca begitu betah berlama-lama membaca cerita kita. 

Jenis cerita fiksi ada 3, yaitu: 1. Novel, yaitu sebuah karya fiksi prosa yang yang tertulis dan naratif. 2. Cerpen, yaitu suatu bentuk prosa naratif fiktf yang cenderung padat dan langsung pada tujuannya. 3. Roman 

a.       Unsur-unsur cerita fiksi Berikut ini :

        unsur intrinsik yang membangun cerita fiksi dimana unsur ini ada di dalam       cerita fiksi.

a)   Tema, yaitu gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung di dalam teks.

b)   Tokoh, yaitu pelaku dalam karya sastra. Karya sastra dari segi peranan dibagi menjadi dua, yakni  tokoh utama dan tokoh tambahan.

c)   Alur/Plot, yaitu cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan  secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan peristiwa yang lain.

d)   Konflik, yaitu kejadian yang tergolong penting, merupakan sebuah unsur yang sangat.diperlukan dalam mengembangkan plot.

e)   Klimaks, yaitu saat sebuah konflik telah mencapai tingkat intensitas tertinggi, dan saat itu merupakan sebuah yang tidak dapat dihindari.

f)   Latar, yaitu tempat, waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan.

g)      Amanat, yaitu pemecahan yang diberikan pengarang terhadap persoalan di dalam sebuah karya sastra.

h) Sudut pandang, yaitu cara pandang pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar, dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca.

i)       Penokohan, yaitu teknik atau cara-cara menampilkan tokoh. 

Sedangkan unsur ekstrinsik yang membentuk karya sastra dari luar sastra itu sendiri, berikut ini.

a)      Keadaan subjektivitas individu pengarang yang memiliki sikap.

b)      Keyakinan

c)  Pandangan hidup yang keseluruhan itu akan mempengaruhi karya yang ditulisnya.

d)      Psikologi, baik yang berupa psikologi pengarang seperti ekonomi, politik, dan sosial juga akan mempengaruhi karya sastra.

e)      Pandangan hidup suatu bangsa.

f)       Berbagai karya seni yang lain, dan sebagainya.


b.      Struktur Teks Cerita Fiksi

Jika kamu mengetahui struktur cerpen, maka itu tidak jauh berbeda dengan struktur penyusun teks cerita fiksi. Dimana struktur cerita fiksi terdiri 6 unsur berikut:

a)   Abstrak, bagian ini adalah opsional atau boleh ada maupun tidak ada. Bagian ini menjadi inti dari sebuah teks cerita fiksi.

b) Orientasi, berisi tentang pengenalan tema, latar belakang tema serta tokohtokoh didalam novel. Terletak pada bagian awal dan menjadi penjelasan dari teks cerita fiksi dalam novel.

c)    Komplikasi, merupakan klimaks dari teks cerita fiksi karena pada bagian ini mulai muncul berbagai permasalahan, biasanya komplikasi disebuah novel menjadi daya tarik tersendiri bagi pembaca.

d) Evaluasi, bagian dalam teks naskah novel yang berisi munculnya pembahasan pemecahan atau pun penyelesaian masalah.

e) Resolusi, merupakan bagian yang berisi inti pemecahan masalah dari masalahmasalah yang dialami tokoh utama.

f)   Koda (reorientasi), berisi amanat dan juga pesan moral positif yang bisa dipetik dari sebuah naskah teks cerita fiksi. 

 

3.      Kaidah Kebahasaan

Agar kamu bisa membedakan teks cerita fiksi dengan yang lain, 3 ciri kaidah kebahasaan berikut harus diketahui:

a. Metafora, merupakan perumpamaan yang sering digunakan untuk membandingkan sebuah benda atau menggambarkan secara langsung atas dasar sifat yang sama.

b.      Metonimia, merupakan gaya bahasa yang digunakan, kata-kata tertentu dipakai sebagai pengganti kata yang sebenarnya, namun penggunaan nya hanya pada kata yang memiliki pertalian yang begitu dekat.

c.   Simile (persamaan), digunakan sebagai perbanding yang bersifat eksplisit dengan maksud menyatakan sesuatu hal dengan hal lainnya. Misalnya: seumpama, selayaknya, laksana.

D.    Manfaat Apresiasi Sastra

Dalam sebuah pertemuan sastra, seorang yang biasa bergelut di bidang eksak menyatakan bahwa orang yang membaca karya prosa sedang melakukan pekerjaan yang sia-sia dan tak ada artinya karena menghabiskan waktu hanya untuk membaca khayalan. Benar, karya berupa prosa-fiksi memang merupakan cerita rekaan, khayalan.Tentu saja pendapat ini tidak benar sebab jika mau disadari, kehidupan dunia berkembang karena imajinasi orang-orang jenius. Sebagai contoh teori gravitasi bumi yang ditemukan ilmuwan Issac Newton dikarenakan imajinasinya setelah melihat buah apel jatuh dari pohon.

Penemuan-penemuan di bidang teknologi pun pada awalnya terjadi karena imajinasi. Dari mulai penemuan kapal terbang hingga pesawat ulang alik, dari televisi hingga program-program komputer paling canggih saat ini, pada awalnya terjadi karena imajinasi.  Imajinasi sangat bermanfaat dalam kehidupan, termasuk imajinasi yang ada dalam cerita rekaan (karya fiksi). Cerita rekaan, karena mengandung imajinasi, dapat memperkaya imajinasi pembacanya. Kekayaan imajinasi ini akan membantu manusia lebih cerdas dan kreatif dalam membangun kehidupan.

Secara tidak langsung memang sastra memiliki manfaat dalam hal imajinasi. Berikut beberapa manfaat yang bisa didapatkan dari apresiasi prosa fiksi.

1.   Dulce et utile. Istilah tersebut diistilahkan oleh seorang filsuf Yunani bernama Horatio. Manfaat sastra disini sebagai hiburan. Hal itu terjadi karena dari cerita rekaan/prosa-fiksi orang mendapat hiburan. 

2.      Membantu pembaca untuk lebih memahami kehidupan dan memperkaya pandangan-pandangan kehidupan. Dalam karya prosa, sesungguhnya pengarang menyuguhkan kembali hasil pengamatan dan pengalamannya kepada pembaca. Pengalaman yang disuguhkannya itu adalah pengalaman yang sudah melalui proses perenungan dan pemahaman yang lebih tajam dan dalam. Dengan demikian, tatkala pembaca membaca karya prosanya, ia mendapatkan suatu pandangan baru tentang kehidupan yang memperkaya amatannya terhadap kehidupan yang ia kenal sehari-hari. Dalam kaitan ini, karya prosa sesungguhnya membantu pembaca untuk lebih memahami kehidupan dan memperkaya pandangan-pandangan tentang kehidupan.

3.      Memperkaya dan mempertajam kepekaan sosial, budaya, religi, dan batin. Intensitas dalam membaca karya prosa, pada gilirannya akan mempertajam kepekaan siswa; kepekaan sosial, kepekaan religi, kepekaan budaya, dan lain-lain. Kepekaan ini dapat diaplikasikan dalam kehidupan

4.      Mengasah kepribadian dan memperhalus budi pekerti. Adanya kaitan moral dengan karya sastra turut menyumbangkan manfaat dalam berapresiasi.Dalam karya sastra terkandung nilai-nilai moral. Nilai-nilai moral tersebut merupakan cerminan kehidupan sehari-hari.

5.  Memperkaya kemampuan berbahasa. Media pengungkapan karya prosa adalah bahasa. Dalam menyajikan cerita dalam karyanya, pengarang berupaya menyuguhkannya dalam bahasa yang dapat menyentuh jiwa pembacanya. Untuk mencapai hal itu, para pengarang berupaya mengolah bahasa dengan sabaik-baiknya dan sedalam-dalamnya agar apa yang disampaikannya kuat mengena di hati pembaca. Mereka mencari kosakata-kosakata yang tepat yang dapat mewakili apa yang mereka inginkan, menciptakan ungkapan-ungkapan baru, menvariasikan struktur kalimat, memberi penggambaran- penggambaran yang hidup dengan bahasa, dan seterusnya. Dengan membaca karya yang telah mengandung bahasa yang terolah tersebut, pembaca diperkaya bahasanya, diperkaya rasa bahasanya, dan sebagainya.

BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Hakikat apresiasi sastra yang diharapkan dapat berwujud kegiatan langsung maupun tak langsung. Apresiasi yang pertama dapat diwujudkan dengan cara membaca dan atau menikmati karya-karya sastra kreatif secara langsung, dengan segala bentuk dan ragamnya. Karya sastra menurut ragamnya dibedakan atas prosa, puisi, dan drama. Karya sastra fiksi atau biasa disebut cerita rekaan, merupakan salah satu jenis karya sastra yang beragam prosa. Adapun pengertian prosa fiksi menurut Aminuddin dalam Djuanda dan Iswara (2006:158) adalah “kisahan atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeran, latar serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasilimajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu cerita”.  

Pokok permasalahan merupakan suatu hal yang diangkat ke dalam sebuah karya fiksi. Pemilihan pokok permasalahan ke dalam sebuah karya fiksi biasanya ada kaitannya dengan pemilihan tema.


B.     Saran

Sebagai mahasiswa khususnya kita  yang akan menjadi Guru nantinya harus bisa menguasai apresiasi sastra khususnya bisa membedakan mana cerita fiksi yang menceritakan sesuatu yang bersifat imajinatif, dan khayalan dan non fiksi yang menceritakan sesuatu yang bersifat kenyataan.


DAFTAR PUSTAKA

 

·         Agusmita.caramenulisbuku.com/cara-menulis-daftar-pustaka-dari-internet/cara menulisdaftar-p...(Diakses pada 27 Maret 2020)

·         Bayuli. 2016. Pengantar Prosa Fiksi.

·         Dirfantara, Hairuddin dan Kartika, Digna Radmila (tahun)."Hakikat prosa dan unsur-unsur cerita fiksi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                

Minggu, 13 September 2020

Kembalilah Ramadhan

 Kembalilah Ramadhan 

Oleh : Yuliana Marfungatun Nikmah

Meraup suka cita

Pecinta ramadhan

Dengan datangnya

Semerbak suka 

Dengan hatinya

Indah akhlak

Pancaran hatinya

Baik kata

Pancaran lisanya

Untuk menyambut hadirmu

Ramadhan


Melimpah ruah buah

Atas datangmu

Yang tak terketahui

Berapa banyaknya

Hingga diri berlomba

Tuk memenangkan nafsu

Mencapai Ridho Ilahi

-

Bulanmu didatangkan

Dalam satu bulan 

Bagaikan seribu bulan

Mendapat ganjaran

Menjadi berbayar

Jika datang bulan

Yang harus diganti

Oleh seorang yang dimuliakan

Disebut An-Nisa dalam Al-Qur'an


Pecinta bersedih 

Ketika dipenghujungmu

Zakat kesucian diri diwajibkan

Ketika diperintahkan

Boleh diawal ditengah atau diakhir

Pecinta bergembiralah

Dalam diri pecinta Ramadhan Kembali

Ramadhan Kembalilah


Buku Kelas 3 SD Semester Ganjil

 Assalamu'alaikum...




Di kala pandemi yang belum usai, anak-anak sekolah masih asyik dengan handphone untuk melaksanakan pembelajaran. Setiap detik setiap menit setiap jam di tataplah layar handphone pekat-pekat untuk mengerjakan tugas. Tak jarang jika ada soal yang sulit bisa akses Google atau mendonwload e-book elektronik yang ada. Dari pengamatan saya, kemudian bertekadlah untuk membuat e-book elektronik diperuntukkan kepada siswa SD kelas 3 semester ganjil kurikulum 2013 yang dimulai hari senin, 3 Agustus 2020 atau sebagai bahan ajar Guru di kelas. E-book ini  bisa diakses di blogspot.myprinceyuliana15.blogspot.com. Adapun program tambahan selain e-book yaitu mengenai keluhan-keluhan PR selama daring dengan syarat sudah berupaya mengerjakan soal namun masih saja belum terselesaikan, silakan untuk daftar melalui link yang tertera di brosur, PR ini diperuntukkan untuk anak SD, namun jika ada anak SMP ingin konsultasi silakan terlebih dahulu mengirimkan soal yang dikira susah. Jika mampu dikonfirmasi sebaliknya. Konsultasi silaka  datang ke Rumah Bu Sukiyah Jalan Manggis RT 02/ RW 04 No.124 Menganti, Kesugihan, Cilacap, Jawa Tengah.

Silakan download ebook berbentuk powerpoint dibawah ini :

Buku kelas 3 SD sem Ganjil







Kata Mutiara

 #katakatabijak #katamutiara #katamuslimah #quotes #quotesmuslimah